Dangdut penghibur kuli bongkar bangunan
March 17, 2010
Kisah Kuli bongkar bangunan
Sore saat itu,Kamis (4/2) perkakas tukang telah dirapikan, rutinitas pekerjaan hari itu sudah selesai. Bapak dari 5 orang anaknya yang tinggal di Surabaya mengadu nasib ke Jakarta.
Kaos yang alakadarnya disampirkannya dibahunya. Dari pukul 08.00, pekerjaan bongkaran gedung telah selesai beraktifitas pukul 17.00. Dengan 9 jam bekerja dibawah bangunan tua, “saya berhasil memisahkan rangka besi pondasi diameter 1 meter dengan cor-coran semen beton tersebut” cerita Djaenul. Saat itu Djaenul sedang beristirahat bersama mandor,satpam, dan temannya dibawah pohon rindang.
Resiko kulit terkelupas akibat pecahan bongkahan beton yang digempur dengan alunan palu besar sudah biasa, terkena hingga lecet,sampai ke pori-pori kulit. Terlebih saat itu temannya terjadi kecelakaan berdarah karena tertimpa bongkahan beton pada kaki. Si penderita hanya diobati di rumah proyek (tempat mereka tidur berdindingkan triplek beratapkan seng).
Sudah 8 tahun, Djaenul (28) menggeluti pembongkaran bangunan tua di ibukota jakarta. Dia agak resah karena gatal pada kulitnya yang sudah 1 bulan berada diproyek. Pengobatan gatal-gatalnya untuk mengeluarkan koceknya ke dokter, masih ia pikir-pikir. “Lebih baik uangnya bisa dikirimkan ke keluarganya yang berada di Surabaya” kata Djaenul. Seberapa pun besar nilai rupiah bagi keluarganya sangatlah berarti bagi kehidupan keluarga Djaenul.
Penghasilannya 50.000 ribu sehari, proyeknya akan selesai dalam jangka waktu 3 bulan. Jadi penghasilan berkisar Rp. 1500.000,- per bulan. Jadi selama 3 bulan ia mendapat upah kerja Rp. 4.500.000,- belum dipotong untuk uang makannya.
Djaenul harus membanting tulang menghidupi kelima anaknya dan istrinya. Dibenak kita seperti tidak bisa dihitung secara matematika atau rumus akuntansi sekalipun bila kita diposisi Djaenul. Pancaran matanya yang berkaca-kaca dibalik tawanya berusaha bergembira dengan menyanyi dangdut, bersenda gurau bersama teman-temanya.
Bergantung pada mandor.
Sulit dibayangkan dengan pendapatan yang minim, mereka harus mengadu nasib ke Ibukota Jakarta. Ia tidak pernah meminta belas kasihan pada orang yang tidak memperkerjakannya.
Kehidupannya yang hanya bergantung pada si mandornya dan siap di panggil untuk membongkar gedung-gedung tua lainya.
Resiko nyawa saat membongkar gedung menjadi tantangan tersendiri bagi kuli bongkar gedung bangunan tua, perkakas yang seadanya,pakaian yang tiada pengaman, tidak bisa menyelamatkan nyawanya dan tiada jaminan keselamatan kerja, kesehatan dari si mandor.
Tanggung jawab dan tuntutan hidup menjadi kepuasan tersendiri bagi kuli bongkar bangunan yang rela memberikan tenaganya untuk upah 50.000 rupiah seharinya berdampak pada nyawa seorang.
hmmm……….ikutan dangdutan juga mas…
leo..ini feature mu ya..bagus…:)